Budaya Korea Kini Resmi Menjadi Gaya Hidup — Inilah yang Dikatakan Angka-Angkanya

Tidak lama yang lalu, “budaya Korea” bagi kebanyakan orang di luar Asia hanya berarti satu hal: K-pop. Mungkin sebuah lagu catchy yang terdengar di YouTube, atau sebuah grup yang namanya susah diucapkan. Tapi sesuatu telah berubah secara diam-diam. Budaya Korea bukan lagi sekadar sesuatu yang orang tonton atau dengarkan — ini adalah sesuatu yang mereka makan, kenakan, dan jalani.

Dan kini, kita punya angka-angka untuk membuktikannya.


7 dari 10 Orang di Seluruh Dunia Menyukai Budaya Korea

Setiap tahun, Kementerian Kebudayaan Korea Selatan melakukan survei terhadap puluhan ribu orang di seluruh dunia untuk mengukur jangkauan Hallyu — Gelombang Korea. Edisi 2026 adalah yang terbesar sejauh ini, mencakup 27.400 responden di 30 negara.

Temuan utamanya? 69,7% orang yang telah mengalami konten Korea mengatakan mereka merasa positif tentangnya.

Ini bukan basis penggemar yang sempit. Ini adalah mayoritas global.

Yang lebih mencolok adalah di mana antusiasme ini tumbuh. Asia Tenggara sudah lama menjadi benteng Hallyu — Filipina, India, dan Indonesia masih memimpin chart. Namun pada 2025, kenaikan terbesar justru datang dari tempat-tempat yang dulunya terasa jauh dari budaya Korea: Inggris naik 8 poin persentase, Spanyol naik 6,2, Amerika Serikat naik 6,1, dan bahkan Jepang — tetangga yang kompleks — naik 6,4 poin.

Budaya Korea tidak sedang menyebar. Ia sedang berakselerasi.


Kejutan Terbesar: Makanan Ada di #1, Bukan Musik

Ini mungkin mengejutkan. Ketika ditanya area budaya Korea mana yang paling populer di negara mereka, responden menjawab seperti ini:

  1. Makanan — 55,1%
  2. Musik — 54,0%
  3. Kecantikan — 52,6%
  4. Drama — 51,3%
  5. Film — 48,9%

K-pop tidak memimpin daftar. Makanan Korea yang memimpinnya.

Ini adalah pergeseran yang luar biasa. Selama bertahun-tahun, K-pop adalah mesin yang mendorong minat global terhadap segala hal tentang Korea. Dan peran itu masih ada — BTS telah menduduki peringkat “tokoh Korea paling berpengaruh” selama delapan tahun berturut-turut, dan K-pop tetap menjadi gambar #1 yang diasosiasikan dengan Korea di seluruh dunia.

Tapi apa yang sebenarnya paling banyak dikonsumsi orang? Bibimbap. Tteokbokki. BBQ Korea. Ramyeon. Makanan yang ditemukan para penggemar berkat drama dan idol kini telah menjadi obsesi global tersendiri.


Dari Menonton ke Membeli: Hallyu sebagai Gaya Hidup

Mungkin angka paling penting dalam seluruh survei ini adalah: 64,8% responden mengatakan bahwa budaya Korea secara langsung memengaruhi keputusan mereka untuk membeli produk atau layanan Korea. Angka itu telah tumbuh setiap tahun selama tiga tahun terakhir.

Dengan kata lain, orang-orang bukan hanya penggemar — mereka adalah konsumen. Mereka menonton Squid Game, penasaran dengan Korea, menemukan skincare Korea, mencoba camilan Korea, memesan restoran Korea, dan akhirnya mulai berpikir untuk belajar bahasa atau mengunjungi negara tersebut.

Inilah “Hallyu funnel” dalam aksi. Dan inilah mengapa industri kecantikan, makanan, dan perjalanan yang terkait dengan Korea sedang booming secara global.

Rata-rata konsumen konten Korea kini menghabiskan 14,7 jam per bulan untuk budaya Korea dan 16,6 dolar per bulan untuk itu. Fashion dan kecantikan memimpin pengeluaran masing-masing dengan 33,9 dan 29,7 dolar.


Tidak Harus “Buatan Korea” untuk Jadi Hallyu

Salah satu temuan paling menarik dari survei tahun ini adalah bagaimana orang mendefinisikan “konten Korea” sejak awal.

Ketika ditanya apa yang membuat sesuatu menjadi produk budaya Korea, jawaban teratas bukan “dibuat di Korea” atau “disutradarai oleh orang Korea”. Melainkan: “konten yang mencerminkan unsur budaya Korea” (23,3%).

Apa artinya dalam praktik? Sebuah serial Netflix yang diproduksi di Amerika Serikat tetapi sarat dengan estetika, bahasa, dan tema sosial Korea dapat terdaftar sebagai “Korea” di benak penonton. DNA budaya lebih penting daripada alamat produksi.

Ini sebenarnya adalah tanda kedewasaan. Budaya Korea telah menjadi sebuah estetika yang dapat dikenali — sebuah sensibilitas yang dapat bepergian, berbaur, dan berkembang tanpa kehilangan identitasnya.


Terus Berkembang, Tapi Tidak Tanpa Tantangan

Tidak ada gelombang budaya yang terus naik selamanya tanpa gesekan. Survei yang sama mencatat bahwa 37,5% responden mengungkapkan persepsi negatif terhadap Hallyu — mengutip kekhawatiran tentang komersialisasi, perilaku beberapa selebriti Korea, dan keinginan untuk melindungi industri budaya lokal mereka sendiri.

Ini bukan ketegangan baru. Setiap kekuatan budaya global menghadapinya. Tapi layak untuk diperhatikan, terutama saat industri semakin besar.

Respons pemerintah Korea adalah berfokus pada kualitas dan keberagaman — memperluas acara K-Expo secara global, berinvestasi dalam format konten baru, dan mendorong jenis penceritaan autentik yang menjadikan Parasite dan Squid Game sebagai hit terobosan.


Jadi, Apa Artinya Semua Ini?

Jika kamu membaca ini, kamu mungkin sudah menjadi bagian dari cerita ini. Mungkin kamu menemukan budaya Korea melalui sebuah lagu, sebuah drama, atau resep di TikTok. Mungkin kamu sudah menjadi penggemar bertahun-tahun, atau mungkin kamu baru saja mulai menjelajah.

Bagaimanapun, kamu adalah bagian dari gerakan yang benar-benar global — yang, menurut data, tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.

Budaya Korea dulunya adalah sebuah ekspor. Sekarang ini adalah gaya hidup. Dan sejujurnya? Angka-angka itu hanya mengejar apa yang sudah diketahui para penggemar.


Bingung harus mulai dari mana? Mulai dari K-drama, makanan Korea, rutinitas kecantikan, hingga belajar bahasa Korea — KVibes24 siap menemanimu. Jelajahi lebih lanjut di KVibes24.com.

Scroll to Top